SUMPAH PEMUDA PEMBANGKIT KEHIDUPAN (oleh Marra Mutiara)

Bulan Oktober, bulan yang selalu digembor-gemborkan sebagai Bulan Bahasa. Mengapa begitu, seperti yang telah kita ketahui dan mengerti, pada bulan ini terjadi peristiwa bersejarah yang menjadi cikal bakal terbentuknya Negara yang saat ini kita tempati bersama, Negara Indonesia. Ya, pada bulan Oktober tepatnya pada 28 Oktober 1928, para pejuang kita khususnya para kaum muda  yang terdiri dari Jong Java, Jong Soematranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond,  Pemoeda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, dan Pemoeda  Kaoem Betawi saling bersatu, saling meredakan ego, saling bahu-membahu untuk mengikrarkan suatu sumpah yang sejak tahun 1928 sampai sekarang dan seterusnya disebut Sumpah Pemuda. Di butir ketiga Sumpah Pemuda telah jelas di ikrarkan bahwa Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Persatuan Indonesia.

Namun, masa sekarang ini, kaum muda mudi kita seakan-akan telah mengalami kemerosotan moral. Seiring dengan perkembangan arus globalisasi yang berserakan kemana-mana membuat citra diri bangsa Indonesia yang semula menjunjung tinggi budaya-budaya khas timurnya malah berbalik menjunjung tinggi budaya-budaya khas barat. Hal ini terasa menyayat hati untuk dirasakan. Apalagi melihat berbagai fakta bahwa banyak budaya-budaya dari negara kita diambil dan di akui oleh negara lain seperti Malaysia. Ada lagi yang sampai melecehkan dasar negara yang telah di perjuangkan sampai titik darah penghabisan oleh para pejuang kita terdahulu. Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan bangsa terhadap negaranya sendiri berangsur-angsur hilang diganti dengan kecintaan mereka terhadap budaya barat.

Barangkali, alasan itulah yang membuat lembaga-lembaga pendidikan saat ini yang di tunjuk sebagai forum pencipta karakter bangsa gencar mengadakan event-event untuk mengembalikan citra diri bangsa dan kecintaan bangsa Indonesia terhadap budaya negaranya sendiri. Tidak hanya itu, event rutin ini dijadikan untuk mengapresiasi jasa para pejuang dan sebagai rasa keikutsertaan mereka dalam menyambut menyambut kelahiran Bahasa yang sejak tahun 1945 telah menjadi Bahasa resmi Indonesia.

Salah satu lembaga pendidikan yang tidak pernah absen untuk menyelenggarakan berbagai event sebagai rasa keikutsertaan menyambut Bulan Bahasa tiada lain tiada bukan Universitas PGRI Semarang. Dengan tema Festival Budaya Nusantara, UPGRIS mampu membungkus agenda-agenda yang dimuat dengan apik. Balairung ditunjuk menjadi tempat pelaksanaan kegiatan mulia tersebut.

Salah satu agenda yang membuat saya merinding dan terharu, saat paduan suara dari salah satu UKM UPGRIS yaitu Invoice menampilkan alunan lagu Satu Nusa Satu Bangsa dengan merdu diiringi dengan aransemen yang apik di sertai dengan pembacaan Sumpah Pemuda di tengah lagu oleh mahasiswa FPBS yang memiliki ras, suku, agama yang berbeda-beda mampu membius para penonton yang terdiri dari anggota pengurus FPBS beserta mahasiswanya sekaligus menambah suasana sakral di dalam Balairung tersebut. Secara tidak langsung, mereka memberi pesan terhadap kita bahwa meskipun kita berbeda ras, suku, maupun agama, kita harus saling bahu membahu, bersatu untuk memajukan negara yang telah diperjuangkan mati-matian oleh para pejuang kita. Jangan biarkan bangsa negara kita dipecahbelahkan oleh pihak yang ingin negara kita hancur.

Selain itu, di tampilkan pula berbagai nyanyian-nyanyian nusantara juga tarian-tarian nusantara untuk mengembalikan rasa kecintaan kita terhadap budaya yang telah mendarah daging dalam tubuh kita. Di sana juga diperlihatkan bahwa orang luar negeri dari Bulgaria yang bernama Matilda sangat antusias belajar budaya khas kita khususnya dalam hal tarian jawa. Ini dibuktikan dengan Matilda menjadi salah satu peserta pengisi acara dalam kegiatan tersebut.

Dalam kegiatan ini, banyak mengajarkan kepada kita bahwa budaya-budaya kita itu sangat beragam dan unik, dari tarian, nyanyian, busana, bahasa, alat musik hingga ras, suku, agama bangsanya. Kita diajarkan untuk lebih cinta terhadap budaya-budaya khas warisan dari nenek moyang. Orang luar negeri saja berbondong-bondong belajar budaya kita, masak kita sebagai pemilik budaya malah mengabaikannya. Apa kata dunia? Semoga kegiatan ini rutin di selenggarakan untuk melestarikan warisan khas timur kita.

(Marra Mutiara, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni,
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENI IMPLEMENTASI KEHIDUPAN KAMPUS, oleh : Marra Mutiara

Mon Histoire de vie (Riwayat Hidupku)

INSPIRASI BAPAK PROKLAMASI, oleh : Marra Mutiara